Dinamika Gejala Infeksi Awal dan Penurunan Viabilitas Formulasi Kering Metarhizium anisopliae Selama Penyimpanan Tropis
DOI:
https://doi.org/10.36084/jpt..v13i2.648Kata Kunci:
Cylas formicarius, Lama simpan, Metarhizium anisopliae, Mortalitas kumulatif, Progresi gejalaAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas formulasi bubuk kering Metarhizium anisopliae terhadap mortalitas kumulatif dan progresi gejala infeksi Cylas formicarius setelah penyimpanan dalam durasi berbeda di suhu ruang tropis. Uji bioefikasi dilakukan dengan enam perlakuan lama simpan (1, 2, 3, 4, 5, dan 6 bulan) serta pengamatan mortalitas kumulatif dan gejala infeksi visual selama 120 jam pasca inokulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi yang disimpan selama 1 bulan (P1) menghasilkan mortalitas kumulatif tertinggi sebesar 10% dalam waktu 120 jam, diikuti P2 (7%), P3 (5%), P4 (4%), P5 (3%), dan terendah P6 (2%). Progressi gejala infeksi mengikuti pola infeksi khas jamur entomopatogen, dimulai dari tidak ada perubahan pada 0–24 jam, perubahan warna tubuh pada 24–48 jam, tubuh lunak pada 48–72 jam, tubuh menghitam pada 72–96 jam, dan mumifikasi total pada 96–120 jam. Hasil analisis menggunakan grafik dual-axis menunjukkan korelasi yang kuat antara progresi gejala infeksi dan mortalitas kumulatif, di mana lonjakan mortalitas signifikan terjadi pada fase tubuh menghitam hingga mumifikasi. Penelitian ini membuktikan bahwa lama penyimpanan mempengaruhi viabilitas dan daya patogenik formulasi M. anisopliae, yang berdampak langsung terhadap kinetika infeksi dan tingkat mortalitas C. formicarius. Disarankan penggunaan formulasi kering dengan lama simpan maksimal 1–2 bulan untuk memperoleh efektivitas pengendalian hayati yang optimal.
Unduhan
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi

Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional. Pemegang hak cipta adalah penulis sesuai dengan ketentuan yang berlaku.